Minggu, 09 September 2012

MANUSIA DAN LINGKUNGAN


Pendahuluan
Tuhan telah menciptakan kehidupan ini penuh dengan nilai-nilai keseimbangan. Tidak
ada kehidupan yang diciptakan-Nya yang tidak bermanfaat bagi manusia, dan tidak ada yang bermanfaat bagi manusia yang tidak diciptakan-Nya. Langit diangkat-Nya tinggi-tinggi, bumi dihamparkan-Nya begitu luas, gunung-gunung tegak berdiri, hutan-hutan rimbun nan indah, air sungai mengalir jernih, sebagai tanda-tanda kekuasaan Tuhan bagi orang-orang yang berpikir.
Siang datang menggantikan malam, malam datang menggantikan siang. Demikianlah kehidupan ini telah berjalan entah berapa miliyar tahun lamanya. Bulan berputar mengelilingi bumi, bumi perputar mengelilingi matahari. Matahari dengan seluruh rangkaian tata suryanya berputar mengelilingi satu kekuatan yang terdapat di dalam sebuah galaxy, hingga seluruh tatanan jagat raya-pun berputar mengelilingi satu kekuatan yang Maha Dahsyat, satu kekuatan yang tidak ada lagi kekuatan di atas-Nya, satu kekuatan yang telah menciptakan seluruh kekuatan. Dialah Tuhan Yang telah menciptakan kehidupan ini, dan Dialah Tuhan yang memiliki haq untuk menghancurkan seluruh kehidupan yang telah diciptakan-Nya.
Ada kehidupan yang berjalan diwaktu siang, dan ada pula kehidupan yang bergerak di waktu malam. Ketika matahari menyinari sebagian permukaan bumi, maka berkeliaranlah organisme-organisme siang untuk mencari makan. Dan ketika sinar matahari telah digantikan cahaya bulan, disaat organism-organisme siang telah kembali ke kandang, maka bergeraklah organisme-organisme malam untuk menggantikannya. Mereka mungkin tidak pernah saling melihat, namun mereka membentuk satu kesatuan yang utuh, sebagai bentuk dari qodrati kehidupan ini.
Maka berbahagialah bagi orang-orang yang senantiasa mensucikan dirinya, yaitu orang-orang yang hati dan lidahnya selalu bergetar menyebut nama Tuhannya, orang-orang yang hati dan lidahnya selalu bergerak memuji keagungan Tuhannya, dan orang-orang yang hati dan lidahnya selalu meratap untuk bertemu dengan kasih sayang Tuhannya. Dan merugilah bagi orang-orang yang senantiasa mengotorinya, yaitu orang-orang yang selalu angkuh dengan apa-apa yang telah mereka miliki, atau orang-orang yang selalu memaki dengan kekurangan yang dirasakannya.

Lingkungan Hidup Manusia
Bumi yang kita huni selama ini pada hakekatnya merupakan sebuah ekosistem yang sangat luas, dimana manusia, hewan, tanaman, tanah, air, udara, dan lain sebagainya dapat dikatakan sebagai  unsur-unsur pembentuknya. Oleh sebab itu, manusia di satu pihak dan lingkungan di pihak lain terintegrasi ke dalam satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Manusia hidup dan mempertahankan hidupnya dengan cara memanfaatkan unsur-unsur yang terkandung di dalam lingkungan hidupnya, seperti udara untuk bernafas, air untuk minum, mencuci, memasak dan keperluan rumah tangga lainnya, hewan dan tanaman dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan kesenangan, serta lahan untuk lokasi pemukiman dan bercocok tanam.
Udara yang kita hirup sebagian besar berasal dari tumbuhan, dan Carbondioksida yang kita keluarkan pada saat bernafas akan di serap kembali oleh tanaman untuk melakukan proses fotosintesis berikutnya. Dengan demikian jelaslah bahwa, manusia tanpa lingkungan adalah sesuatu hal yang masih bersifat abstraksi adanya.
Jika pada tahun 2006 ini penduduk Indonesia diprediksikan berjumlah 260 juta jiwa, dan 200 juta jiwa diantaranya bermakanan pokok nasi, itu berarti alam Indonesia harus mampu menyiapkan 200 juta piring nasi bagi kelangsungan hidup rakyat Indonesia. Jika setiap individu rata-rata mengkonsumsi nasi sehari tiga kali, maka alam Indonesia harus mampu menyiapkan 600 juta piring nasi setiap hari bagi pemenuhan kebutuhan hidup rakyat Indonesia. Dalam satu minggu saja tanah Indonesia harus mampu menyiapkan 4 miliyar 200 juta piring nasi agar rakyat Indonesia mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Padahal ekosistem persawahan sebagai pabrik dari produksi beras yang kita butuhkan tidak akan mampu memproduksi beras dengan baik tanpa bantuan dan pengaruh dari sub-sub pembentuk ekosistem bumi lainnya. Hutan sebagai salah satu sub ekosistem di bumi adalah ekosistem yang selama ini sangat besar pengaruhnya terhadap ekosistem persawahan, karena hutan akan mengalirkan air yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman, mensuplai udara yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan lain sebagainya.
Jika ekosistem hutan berfungsi dengan baik, maka persawahanpun akan berfungsi secara baik, tetapi jika hutan kondisinya terganggu, maka sudah barang tentu pula produksi dari ekosistem persawahan tersebut akan ikut terganggu. Dan ketimpangan-ketimpangan interaksi dari sub-sub ekosistem bumi tersebut pada akhirnya akan kembali ketengah-tengah kehidupan manusia.
Untuk menghindari terjadinya ketimpangan-ketimpangan dari interaksi diantara sub-sub ekosistem bumi termaksud, tidak ada jalan lain selain kita harus mampu menjaga keseimbangan alam dan menyebar luaskan informasi ini kepada masyarakat yang lebih luas. Karena masalah lingkungan adalah masalah kemanusiaan yang menyangkut kelangsungan hidup manusia secara keseluruhan dan menjadi tanggungjawab kita semua.

Mentalitas Lingkungan
Manusia bukanlah satu-satunya mahluk yang memiliki haq untuk hidup di atas muka bumi ini, tetapi mahluk lain diluar manusia-pun sama memiliki haq untuk hidup, untuk bertahan hidup, dan untuk berkembang biak di atas bumi ciptaan Tuhan Yang Esa. Bahkan keberadaan mereka, sesungguhnya sangat bermanfaat bagi kelansungan hidup umat manusia sendiri. Maka, menjaga kelestarian mereka adalah sama halnya dengan menjaga keselamatan anak-anak kita sendiri, dan merupakan penunaian tugas yang telah diamanahkan oleh Tuhan kepada seluruh umat manusia.
Secara qodrati, seorang manusia di dalam menjalani kehidupan ini senantiasa bergelut dengan perubahan-perubahan dan perkembangan-perkembangan, baik yang bersifat perkembangan jasmaninya, maupun dalam hal perkembangan nuansa ruhaninya.
Tingkat perkembangan jasmani sangat dipengaruhi oleh kandungan makanan yang di konsumsi, cara mereka memelihara kesehatan, dan hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan tubuhnya. Sedangkan tingkat perkembangan ruhani sangat ditentukan oleh hal-hal yang bersifat kejiwaan seperti, agama, pendidikan dan pengaruh lingkungan tempat manusia tersebut beraktifitas.
Lingkungan manusia, baik di dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga atau lingkungan dalam arti luas, sebenarnya memiliki potensi untuk mempengaruhi tingkat perkembangan jiwa seseorang, dan inilah yang biasa disebut dengan istilah” Mentalitas dan Lingkungan” manusia, atau dengan kata lain, bagaimana sebuah kondisi lingkungan dapat mempengaruhi baik atau buruknya mentalitas seorang anak manusia.
Lingkungan yang baik, biasanya akan membentuk mental seseorang menjadi baik, dan lingkungan yang kurang baik, pada akhirnya akan membentuk mentalitas seseorang menjadi rusak, walaupun dalam beberapa kasus tertentu, teori ini bisa saja malah sebaliknya. Beberapa hal kondisi lingkungan yang dapat membentuk mentalitas seseorang, diantaranya adalah :
a.   Cara berbicara.
Dalam kehidupan sehari-hari, lingkungan bisa membentuk karakter dan intonasi seseorang dalam berbicara. Lingkungan yang keras secara perlahan akan mendorong seseorang untuk berbicara keras dan kasar, bahkan kata-kata kasar dan keras itu mungkin sudah menjadi sesuatu yang dianggap etika dan adab dalam pergaulan.
Di sisi lain, lingkungan yang tenang-pun secara lambat laun akan mempengaruhi orang-orang disekitarnya untuk berbicara tenang, halus dan lembut. Bahkan ketika seseorang sementara marahpun, kata-kata halus itu tidak bisa lepas dari ucapannya. Dalam konsisi seperti itu, hanya intonasi dari suaralah yang bisa dijadikan patokan, apakah seseorang itu sementara marah atau tidak.
Namun intonasi dan gaya berbicara tidak dapat dijadikan sebuah patokan untuk menyatakan apakah seseorang itu memiliki mental yang baik atau tidak. Bahkan tidak jarang kita temukan seseorang yang berbicaranya keras, namun ia memiliki kelembutan hati dan mentalitas yang terpuji, bahkan sebaliknya, ada orang yang berbicaranya lemah lembut, namun karakteristik dan mentalitasnya sangat tercela dan sangat berbahaya.
b.   Cara berpikir
Walaupun tidak menjadi suatu kemutlakan, lingkungan sebenarnya juga bisa berperperan terhadap cara berfikir seseorang. Lingkungan yang tenang akan mendorong seseorang untuk berfikir jernih, tenang dan penuh pertimbangan, sebaliknya lingkungan yang keras, sibuk atau bising, akan membentuk pola fikir seseorang menjadi temperamental, tidak sabaran, tergesa-gesa dan lain sebagainya.
c.   Cara bertindak
Besarnya pengaruh lingkungan pada pola fikir manusia akan mendorong manusia tersebut untuk bertindak sesuai dengan tuntutan lingkungannya. Fakta telah memberikan data kepada kita semua, bahwasanya lingkungan yang keras lebih banyak membentuk cara bertindak yang selaras dengan karakter hidupnya, walaupun cara bertindak tersebut mungkin masih dikatakan lumrah pada lingkungan tersebut, namun bagi lingkungan lain, hal itu akan menjadi suatu permasalahan yang harus secepatnya diadaptasikan.
Perhatikan cara bertindak sekelompok komunitas yang hidup di lingkungan pelabuhan dengan cara bertindak sekelompok komunitas yang berada di lingkungan pedesaan atau pegunungan.
d.   Cara memecahkan masalah
Cara memecahkan masalah yang dihadapi oleh seseorang sangat dipengaruhi oleh cara berfikir dan bertindak kesehariannya, sedangkan cara berfikir dan bertindak seseorang seperti yang telah dijelaskan di atas, pun sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan hidupnya. Jadi jelaslah bahwa lingkungan secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi cara seseorang dalam memecahkan permasalahan dalam hidupnya sendiri.
e.   Cara berinteraksi
Yang terakhir adalah bagaimana peranan lingkungan di dalam mempengaruhi cara berinteraksi diantara anggota kelompoknya, hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari di dua lingkungan yang berbeda dengan dua bentuk interaksi yang berbeda pula.

Mentalitas Dalam Bekerja
Keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangat ditentukan oleh seberapa jauh mentalitas yang dimiliki oleh para pengelola pekerjaan pembangunan tersebut. Oleh sebab itu, untuk menunjang pembangunan yang berwibawa, maka yang terpenting dan terutama harus di bangun oleh bangsa tersebut, adalah bagaimana membentuk mental-mental suci di hati dan para pejabat beserta rakyatnya.
Untuk mendukung ke arah pembentukan mental tersebut, maka langkah-langkah yang harus ditekankan kepada setiap individu diantaranya adalah :
a.   Meyakini bahwa pekerjaan adalah sebuah amanah
Setiap individu adalah pengemban amanah, dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawabannya. Pekerjaan dalam sudut pandang sebuah amanah memiliki dua pertanggungjawabab yang harus dibuktikan. Yang pertama harus dipertanggungjawabkan kepada sesama manusia, dan yang kedua harus mampu dipertanggungjawabkan di hadapan yang maha pemberi amanah, Dialah Tuhan Yang telah menciptakan dan yang akan menghancurkan kehidupan kita.
b.   Meyakini bahwa pekerjaan adalah sarana untuk beribadah
Setiap aktivitas yang dilakukan oleh seorang individu senantiasa bersandar pada pencarian kasih sayang Tuhan, pada hakekatnya adalah sebuah implementasi dari bentuk ibadah kepada Tuhannya. Bekerja atas dasar untuk mencari kasih sayang Tuhan, pun dapat bernilai sebagai suatu bentuk ibadah, sedangkan pekerjaan yang keluar dari aturan Tuhan, dapat berarti sebagai suatu bentuk pembangkakan dari individu tersebut kepada Tuhannya sendiri.
c.   Meyakini bahwa pekerjaan adalah sebuah Rahmat
Pekerjaan yang kita jalankan pada hakekatnya merupakan sebuah Rahmat dari Tuhan untuk kita. Bukankah masih banyak orang yang sampai pada saat ini belum memiliki pekerjaan tetap, atau kalah bersaing pada waktu melewati test penerimaan calon pegawai negeri?. Jika kita mau berfikir bijak, mungkin pada saat itu hampir setiap peserta berusaha untuk lulus, belajar dan berdoa kepada Tuhan, namun yang terpilih akhirnya adalah kita.
Upaya kita untuk menjadi pegawai negeri telah kita dapatkan, dan itulah sebuah rahmat dari Tuhan untuk kita.
d.   Meyakini bahwa pekerjaan adalah sebuah perjuangan
Di dalam menjalani tugas pekerjaan sehari-hari, kita tidak bisa terlepas dari berbagai macam persaingan dan pembuktian nilai-nilai profesionalisme, sehingga untuk memenangkan persaingan tersebut seorang pegawai harus berjuang dan berkompetesi sejara bijak. Jangan terjebak pada persaingan yang tidak baik, karena kita tidak bisa terlepas dari ke tiga pengertian yang telah penulis paparkan di atas.
e.   Meyakini bahwa pekerjaan adalah sebuah pertanggungjawaban
Yang terakhir adalah pekerjaan sebagai sebuah pertanggungjawaban, baik pertanggungjawaban kepada lingkungan, pimpinan, bahkan pertanggungjawaban kepada Tuhan yang telah memberi kesempatan untuk memegang amanah tersebut. Pertanggungjawaban bisa kita lakukan dengan cara bekerja sungguh-sungguh, senantiasa berintropeksi diri, saling menasehati, bersaing untuk menjadi yang terbaik, dan senantiasa merasa diawasi oleh Tuhan.


Manusia bukanlah penguasa lingkungan,
tetapi manusia merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari lingkungan ini...